Selebrasi para pemain Indonesia U-23 usai meraih kemenangan atas Iran U-23 (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya)
Selebrasi para pemain Indonesia U-23 usai meraih kemenangan atas Iran U-23 (Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya)

Mewujudkan Nostalgia Emas di Manila 1991

Bola Timnas U-23 SEA Games 2019 Filipina
Alfa Mandalika • 08 Desember 2019 12:14
ATMOSFER di Stadion Rizal Memorial seketika riuh tatkala wasit meniup peluit panjang tanda waktu pertandingan Indonesia versus Myanmar usai. Seluruh pendukung skuat Garuda yang hadir, bersuka cita lantaran tim kesayangan lolos ke final.
 
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan yang hadir langsung juga sangat bergembira. Sampai-sampai, ketika masuk ke lapangan menghampiri pemain, Iwan Bule --sapaan karib Iriawan, sampai melompat dan memeluk pemain.
 
Selain Iwan Bule yang semringah, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari juga turut bersuka cita atas keberhasilan Indonesia ke final.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  "Ini merupakan hasil yang ditunggu-tunggu masyarakat, sepak bola kita masuk ke final," kata Okto.
 
Sesmenpora Gatot S Dewabroto yang hadir langsung ke stadion juga begitu bersemangat menyanyikan yel-yel, "Juara satu, juara satu, juara satu".
 
Wajar jika suporter begitu bergembira meski baru lolos ke final. Terakhir kali, Indonesia lolos ke final sepak bola SEA Games terjadi pada enam tahun lalu. Tepatnya, pada 2013 di Myanmar. Namun sayang, kala itu, Indonesia kalah dari tim Negeri Gajah Putih Thailand, 1-0.
 
Ya, memang pecinta sepak bola Indonesia sudah rindu menyaksikan timnas kebanggaan menyabet emas. Sebab, itu terakhir kali terjadi pada 28 tahun yang lalu. Menariknya, momen emas itu didapatkan di Manila, Filipina. Indonesia saat itu menang via adu penalti menghadapi Thailand.
 
Kembali bertemu Vietnam
Indonesia dipastikan akan berjumpa kembali Vietnam pada babak final. Vietnam lolos usai menghajar Kamboja 4-0!
 
Pelatih Indra Sjafri dalam jumpa pers usai laga juga mengatakan, dirinya siap menghadapi negara mana pun. Sebab, dia hanya ditugaskan meraih emas.
 
"Pilihan saya sebagai pelatih cuma satu, tidak ada dua pilihan karena memang di awal saya hanya ditugasi untuk medali emas, dan Bismillah," tegas Indra.
 
Pelatih berdarah Minang itu kian percaya diri lantaran mental juara anak asuhnya sudah terlihat. Pasalnya, ketika menghadapi Myanmar, Indonesia bisa unggul meski skor sempat 2-2.
 
"Saya rasa drama di semifinal ini adalah untuk menempa para pemain agar menjadi mental juara, ini menguntungkan buat kita. Mungkin Tuhan sudah merencanakan jalan medali emas seperti ini," tutur Indra.
 
"Kalau tim yang tidak punya mental juara, tidak mungkin mereka bangkit. Jadi berdoa saja dan titip pesan kepada masyarakat agar tugas ini bisa kita selesaikan sampai tuntas," tambahnya.
 
Komparasi statistik
Menengok perjalanan Indonesia dan Vietnam, kedua negara memang layak tampil di final. Indonesia tercatat sudah menorehkan 21 gol sampai babak semifinal. Setali tiga uang, Vietnam juga mengemas 21 gol.
 
Partai final yang akan dihelat di Stadion Rizal Memorial dipastikan menjadi ajang pembuktian, siapa lini gedor yang paling menakutkan.
 
Di kubu Indonesia, ada nama Osvaldo Haay yang jadi andalan untuk membongkar pertahanan lawan. Sedangkan Vietnam, striker Ha Duc Chinh juga tampil mengesankan. Kedua striker tersebut sama-sama mengemas delapan gol.
 
Sementara jumlah kebobolan, Indonesia dan Myanmar sama-sama kebobolan empat gol sampai babak semifinal.
 
Well, selamat berjuang skuat Garuda, tinggal selangkah lagi bisa mewujudkan emas yang dirindukan masyarakat Indonesia.

 

(RYN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif