Ratu Tisha Destria. (Foto: Zam/medcom.id)
Ratu Tisha Destria. (Foto: Zam/medcom.id)

Ratu Tisha, Mengapa?

Bola pssi
Arpan Rahman • 14 April 2020 16:29
KECANTIKAN lebih sering membuat grogi daripada pergumulan di rumput hijau. Itulah alasan mengapa saya enggan mendekati Ratu Tisha Destria. Padahal kesempatan untuk itu pernah ada.
 
Pada Kongres Luar Biasa dan Tahunan PSSI 2018, Ratu tampil di atas panggung terdepan. Ia mengabsen satu per satu delegasi dari setiap asosiasi provinsi yang hadir. Hanya dari jauh, duduk di belakang panggung, saya perhatikan kesibukannya.
 
Barusan seorang petugas federasi memarahi saya di lorong menuju kamar mandi: "Kamu 'kan sudah lama menulis bola. Jangan takut tidak kebagian akreditasi. Dari kemarin, kamu me-Whatsapp saya terus, sementara saya juga sibuk mengurus wartawan lain. Tadinya saya kira kamu orang Belanda karena chat-mu bahasa Inggris semua."
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Ia rada lupa bahwa dia abai dengan tugasnya melayani awak media tanpa pengecualian. Tidak juga untuk seterusnya menyemburkan keluhan. Posisinya harus menerima pers dengan hormat bukan menyepelekan wartawan seperti orang yang tidak sanggup diurus selayaknya. Lagi pula lini masa yang dia atur sudah beberapa kali berubah jadwal tanpa pemberitahuan seperti cuaca pancaroba.
 
Wajar kalau wartawan maju bertanya. Karena dengan bertanya media mengambil bagian penting dalam sepak bola. Bila diam saja, maka periksalah toilet, pasti banyak amplop bertebaran di dalam kotak sampah.
 
Kemarahan itu sungguh tidak elok dituliskan seluruhnya di artikel ini. Tapi, imbasnya, saya malah malas mencari informasi lebih mendalam di sana. Kongres itu digelar di ICE BSD Serpong, Tangerang.
 
Letih naik KRL dari Bekasi sejak pukul 6, berdiri sepanjang perjalanan selama tiga jam, saya merasa penat. Ditambah amarah media officer itu, antuasiasme menulis pun anjlok ke titik nadir. Usai santap siang dari nasi kotak yang gratis disediakan panitia, pantat saya beringsut, lantas berlalu.
 
Sebelum melangkah ke pintu, masih sempat terlihat Ratu mendampingi Ketua PSSI Edy Rahmayadi meladeni wawancara bareng sejumlah wartawan di luar arena sidang. Tapi saya kadung dirundung lelah untuk sekadar nimbrung ikut-ikutan.
 
Lewat pembawaan manajerial ciamik menunjang kesekretarisan yang cakap, Ratu terbukti berhasil menggolkan sejumlah prestasi bagi PSSI di luar lapangan. Banyak media yang telah menguraikan capaian itu terdiri dari apa saja.
 
Gebrakan paling fenomenal duet Edy-Ratu nyaris meloloskan timnas U-16 dan U-19 ke Piala Dunia. Selain Indonesia ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan.
 
Tiga kesuksesan tersebut patut diapresiasi tinggi. Apalagi jarang muncul sosok praktisi sepak bola papan atas kita yang bergender perempuan.
 
Mengapa Ratu mundur? Apa alasannya rasional menurut pencinta sepak bola Indonesia?
 
Beberapa hari lalu, anggota DPR RI mantan Ketua PSSI mengeluh kepada Ketua PSSI yang sekarang. Keluhannya remeh belaka: tidak kebagian kursi VIP di stadion dan tak pernah diundang ke acara PSSI selama Ratu menjadi Sekretaris Jenderal. Ketua Iwan menjawab telak, peranan Ratu terutama di depan media sudah ditekan di bawah kepengurusannya yang baru.
 
Publik tentu boleh menduga bahwa dipicu perdebatan di parlemen itu, Ratu akhirnya meletakkan jabatan. Ia mungkin merasa tidak nyaman lagi berkiprah di PSSI karena wewenangnya dipangkas tanpa alasan. Kesan umum menunjukkan betapa lancangnya arogansi kekuasaan hanya demi memenuhi keluhan mantan Ketua PSSI.
 
Hanya waktu yang bisa menjawab apakah Ketua PSSI saat ini atau mantannya yang beralih profesi jadi petugas partai. Atau Ratu Tisha, Sekjen perempuan pertama PSSI, yang mundur tiba-tiba dengan penuh tanda tanya. Siapa di antara mereka yang lebih tulus mencintai sepak bola Indonesia?
 
Tunggu saja waktunya.

 

(KAH)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif