Pemain tengah timnas Indonesia Stefano Lilipaly (kanan) tertunduk lemas seusai laga melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (10/9/2019). (Foto: MI/Pius Erlangga)
Pemain tengah timnas Indonesia Stefano Lilipaly (kanan) tertunduk lemas seusai laga melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (10/9/2019). (Foto: MI/Pius Erlangga)

Membenamkan Kepala dalam Tanah

Bola timnas indonesia Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia
Arpan Rahman • 12 September 2019 09:00
SETELAH berandai-andai menjadi pelatih Thailand (baca: preview-indonesia-vs-thailand-menakar-kekuatan-gajah-perang), kita menemukan jawaban sendiri dari lapangan. Akira Nishino merancang strategi yang sudah diperkirakan Medcom.id.
 
Diandalkan sejak di Piala Asia awal tahun ini, Siwarak Tedsungnoen kembali menunjukkan penampilan dingin di bawah mistar gawang. Kiper pengganti Chatchai Bootprom itu membawa ketenangan pada barisan belakang. Jadi, dia tidak seperti kiper cadangan yang mendadak tiba-tiba saja 'naik kelas' sesudah penjaga gawang utama sebelumnya terpaksa menyingkir karena mengidap penyakit misterius.
 
Tempo Pelan
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Tak ada tembakan striker gaek dan tandemnya yang dinaturalisasi dari Brasil dan Belanda milik timnas Garuda yang membahayakan Siwarak. Bahkan tidak satu kali pun muncul peluang emas yang 90 persen mengancam terjadinya gol ke gawang Siwarak selama 90 menit.
 
Laga kontra Indonesia pada Selasa 10 September di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, cuma menjadi pentas peragaan bola-bola lancar milik tim tamu. Modelnya pun ganteng-ganteng macam peragawan.
 
Bek kanan Tristan Do rupanya bisa santai sesuai prediksi sebab sayap kiri lawan yang minim kepandaiannya kembali ditampilkan. Pesayap nomor punggung 21 itu masih terus bermain 'memaksa' tanpa mengukur kemampuannya sendiri! Bola yang banyak hilang dari kaki sayap Indonesia itu malah sering diolah kembali jadi awal serangan Thailand.
 
Theerathon Bunmathan di posisi bek sayap kiri membuktikan kelasnya sebagai pesepak bola papan atas Asia. Bukan hanya sukses meredam serangan, dia malah mencetak gol.
 
Duet Pansa Hemviboon dan Manuel Tom Bihr menjadi pengadang jitu di jantung pertahanan. Sosok gemblengan Eropa kelahiran Jerman berpasangan serasi dengan pemain terbaik Thai League 1 pada 2017. Mereka dua bek tengah yang digdaya tidak terkalahkan.
 
Tim nasional Indonesia tidak menjalin persaudaraan antarsesama anggota kesebelasan di lapangan. Soalnya klub-klub mereka masih saling bertarung sengit di kompetisi domestik, hingga mau tak mau para pemainnya di bawah sadar masih menganggap rekan satu tim sebagai musuh.
 
Thailand tampil layaknya Spanyol kecil dari Asia Tenggara, itu benar. Dilandasi rasa suka sama suka, pemain saling memberi umpan satu dengan yang lain. Hujan umpan itu otomatis membanjiri lapangan jadi ritme yang akhirnya jadi cara main yang khas mereka.
 
Akira pun tidak mungkin melatih dengan modal kira-kira. Panggungnya sudah di kelas Piala Dunia bukan lagi babak prakualifikasi belaka. Karena itu Thailand meminangnya dengan perhitungan pasti.
 
Kalkulasi Akurat
 
Kiper merangkap kapten memang Siwarak. Tapi otak permainan sebenarnya Sarach Yooyen. Ia lekas menekel keras lawan, menghentikan pertandingan, ketika beberapa detik sebelumnya ada rekannya dilanggar secara tidak sportif dan dibiarkan wasit.
 
Penyeimbang Yooyen di garis tengah, Phitiwat Sookjitthummakul, menunjukkan keahliannya patut diangkat ke level internasional. Ia dengan serius menghadapi kesebelasan berperingkat jauh di bawah dunia dalam rangking FIFA seolah-olah melawan Brasil atau Inggris. Sampai tim yang bertindak sebagai tuan rumah menderita rasa remuk redam.
 
Jenderal kancil Chanathip Songkrasin mempermainkan kolong-kolong kaki lawan dengan cantiknya. Bantuan Chanathip kepada Supachok Sarachat sangat berguna. Bergerak macam siluman, gentayangan menghantui daerah berbahaya lawan, Supachok menggetarkan jala dua kali begitu telak seperti Valak.
 
Meteor baru yang melesat di ujung tombak penyerangan: Supachai Jaided, begitu buas menyambut peluang. Memburu bola, menyundul tajam dengan topangan sosoknya yang tinggi, menembak keras di kesempatan pertama tanpa pikir panjang. Keberuntungan saja yang belum berpihak untuk Supachai mencetak skor.
 
Tawaran timnas Thailand buat membesut mereka agaknya membuat Nishino menyiapkan segala keperluan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Ia sudah belajar banyak, tapi tidak semua pelajaran perlu dikeluarkan dalam konferensi pers di stadion lawan.
 
Pendekatan ekonomis dalam bisnis sepak bola ala Jepang dia pertontonkan dengan sempurna. Tak usah banyak berlari, namun memaksa lawan mengejar sampai ngos-ngosan sendiri. Aspek kecepatan juga bukan yang utama.
 
Thailand yang pernah mencatat rekor posisi 43 dunia di bulan September 1998 sungguh tidak patut terpuruk sesedih pada waktu-waktu belakangan ini. Mereka sudah saatnya gagah menantang tim-tim ras kuning dari Timur Jauh dan sejumlah negara kelas atas Timur Tengah.
 
Sejak Kiatisuk Senamuang ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Juni 2013, tim Gajah Perang mendapatkan tuahnya kembali. Hanya diselingi sesaat oleh besutan Milovan Rajevac, warna permainan bernuasa Eropa Timur ternyata tidak cocok sama Thailand. Kini, mereka telah beranjak dari masa transisi berkat pembuktian Nishino.
 
Napsu Besar
 
Sebelum lakon Grup G kualifikasi Piala Dunia zona Asia dipentaskan, pelatih Indonesia sesumbar menjadikan timnas senior sebagai inspirasi bagi timnas-timnas lain di level junior. Sekarang, tentu saja timnas-timnas lain di level junior tidak mau menjadikan timnas senior sebagai inspirasi.
 
Barangkali, tanpa sepengetahuan kita, buntut perseteruan antarklub di Liga 1 sudah berujung runcing secara diam-diam ke sesama pemain dalam timnas sendiri. Benturan jadwal mulai dicari-cari jadi alasan biang kegagalan dan payahnya stamina timnas Indonesia.
 
Simon McMenemy juga mengincar runner-up terbaik, katanya. Tapi naga-naganya tim besutannya menghuni dasar klasemen di ujung lakon Grup G nanti.
 
Seperti burung unta ketika berhadapan dengan ancaman marabahaya, mungkin lebih bagus kalau sekarang McMenemy membenamkan kepalanya di dalam tanah. Mimpi atau tepatnya Piala Dunia sudah tidak lagi kita bayangkan. Tapi Simon jelas harus bertanggung jawab selaiknya seorang English Gentleman abad pertengahan meskipun tangannya tattoan.
 
Video: Skuat Garuda Menyerah 3-0 dari Thailand
 

(ASM)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif