NEWSTICKER
.Fakhri Husaini. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
.Fakhri Husaini. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

Fakhri Batal Melatih Tim Nasional

Bola Timnas U-23 timnas indonesia Timnas U-22
Arpan Rahman • 09 Januari 2020 17:30
ASOSIASI sepak bola Tanah Air tidak menghargai Fakhri Husaini. Ia ditawari PSSI hanya menjadi asisten di tim nasional. Fakhri pun menolak tegas.
 
Sejak 2015, dia melatih timnas kelompok usia (U-16 & U-19). Berbagai prestasi juga sudah ia torehkan di timnas kelompok usia. Irosnisnya, lima tahun berselang, kini Fakhri tidak bisa lagi melanjutkan kiprahnya.
 
Terungkap pula hal lain di sini. PSSI mungkin malas membuat surat penawaran resmi sebagaimana lazimnya tata tertib di sebuah organisasi. Otoritasnya menunjukkan telah melakukan sesuatu yang berantakan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Fakhri cuma ditemui seorang pengurus. Ia direktur teknik diutus atas perintah pengurus lain, yang jabatannya lebih tinggi. Tidak ubahnya seperti seorang kenalan menemui teman akrabnya di warung kopi. Kacau ini!
 
Padahal organisasi yang baik itu lazimnya membuat surat penawaran resmi. Layaknya membuka lowongan pekerjaan atau lelang jabatan. Bukannya malah terkesan sedang menawarkan suap di bawah tangan dari balik kolong meja. Kesan PSSI jadi tidak baik.
 
Kalaupun membuat surat, PSSI bisa saja abai apakah surat itu akan sampai atau tidak ke alamat yang dituju. Tak ada bukti hitam di atas putih mengenai tawaran PSSI kepada Fakhri.
 
Pernah diketahui juga terjadi situasi serupa ini. Tapi dalam soal yang berbeda. Saat itu, untuk urun saran, saya sempat diundang dalam acara bincang di stasiun televisi swasta.
 
Ketua PSSI Asprov Sulawesi Selatan -- adik mantan ketua PSSI -- menyatakan bahwa Musyawarah Daerah digelarnya dengan mengundang klub PSM Makassar lewat surat yang dikirim melalui faksimili. Kemudian, terkonfirmasi dari pihak PSM: nomor faksimili itu tidak aktif lagi. Alhasil, surat tak pernah diterima oleh alamat tujuan.
 
PSM wajar lantas mengklaim Musda tidak sah. Soal ini terjadi 7 tahun lalu ketika muncul dualisme kepengurusan Asprov Sulsel.
 
Saya berbicara di acara TV: "Surat dikirim lewat faksimili, telex, telegram, kurir, pengantar kiriman, tukang pos atau burung merpati bukan masalah. Surat itu mesti dibukukan dan dikendalikan dengan pengawasan organisasi, hingga semua tahu bahwa surat itu sudah diterbitkan." Faktanya, tidak ada bukti surat itu pernah ada.
 
Masalah Asprov Sulsel versus PSM dahulu memang berbeda persoalan Coach Fakhri dengan PSSI sekarang. Di soal terakhir, pelatih merasa berhasil meloloskan timnas ke Piala Asia U-20 2020.
 
Seyogyanya Fakhri diberi kesempatan mempertahankan kinerjanya. Bukan diturunkan jabatan ke posisi asisten. Lagi pula dia justru tidak mendapat undangan buat mempresentasikan program supaya prestasinya itu diindahkan PSSI.
 
Fakhri sebenarnya pelatih lokal yang piawai. Persis bobot permainannya yang berwibawa sebagai gelandang, dulu. Saya masih jadi anak gawang ketika dia membela PS Bina Taruna Jakarta, klub pelabuhan. Ia menjelma menjadi pemain berkarakter yang melesat secepat kilat ke jajaran timnas dari godokan Galatama bersama Pupuk Kaltim Bontang.
 
Barangkali akan buntung tambah panjang nasib sepak bola Indonesia bila kehilangan Fakhri Husaini. Ia batal jadi pelatih timnas. Tapi Fakhri sudah menegakkan martabatnya setinggi-tingginya dan dia melawan dengan cara elegan penuh kehormatan.
 

 

(KAH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif