Partizan vs Red Star Belgrade: Derby yang Memecah dan Menyatukan Bangsa

Gregah Nurikhsani Estuning 24 September 2018 17:00 WIB
sepak bola
Partizan vs Red Star Belgrade: Derby yang Memecah dan Menyatukan Bangsa
Suasana Eternal Derby. (Foto: https://twitter.com/LateTackle)
Jakarta: Eternal Derby menjadi sebutan kala dua tim 'militer dan polisi' bentrok di Belgrade, Serbia, yakni Red Star Belgrade dan Partizan Belgrade. Banyak nilai historis dan budaya yang mengakar pada derby yang juga dijuluki Derby of Southeast Europe tersebut.

"Rivalitas Belgrade ini membuat Serbia terpecah menjadi dua, membuat Anda terbagi dua, harus, apakah Anda Red Star atau Partizan. Di sini, 50 persen orang mendukung Red Star, 45 persen Partizan. Sisa lima persen adalah pendukung tim lain atau tidak peduli sama sekali. Ah, bukan Belgrade, tapi Serbia," ujar Darko Nikolic, wartawan media kenamaan Serbia, Blic.

Kedua tim memiliki stadion yang cuma berjarak 12 menit jalan kaki satu sama lain. Terletak di wilayah Autokomanda, area yang sedianya tenang pada hari biasa, akan memanas ketika Red Star dan Partizan bentrok.


Slavisa Jokanovic, seorang die hard fan Partizan sejak kecil yang sangat beruntung bisa bermain secara profesional di klub favoritnya itu menceritakan bagaimana atmosfer Belgrade. Jokanovic kini melatih Fulham, namun ia tak bisa melupakan berbagai pengalaman yang didapatnya saat masih menjadi suporter dan pemain.

"Ini adalah derby antara dua klub Serbia paling terkenal saat ini, yang merupakan dua klub paling terkenal Yugoslavia dahulu kala. Derby ini sungguh spesial buat banyak orang, dan lebih dari sekadar pertandingan sepak bola buat sejumlah orang," kata Jokanovic kepada BBC Euro Leagues Football Show.

Dahulu Penuh dengan Kekerasan, Sekarang?
Derby ini selalu diasosiasikan dengan kekerasan, vandalisme, bahkan kematian. Insiden paling memilukan terjadi tahun 1999 kala pendukung remaja Red Star tewas akibat sebuah roket yang dilontarkan fan Partizan.

Tahun 2013, 104 suporter dari kedua belah tim ditahan akibat bentrok yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah pertemuan Red Star dengan Partizan. Masih di tahun yang sama, bentrokan tak sampai menahan orang, namun kursi berterbangan di dalam stadion.

Selanjutnya tahun 2015, derby ini tertunda selama 45 menit. Bisa dtebak, adanya kerusuhan di luar dan dalam stadion. Menariknya, kali ini kedua suporter menyerang polisi dengan melemparkan kursi, suar, sampai kembang api.

Tak sampai di situ, saat pertandingan tersebut dilanjutkan, sebuah granat tangan dilemparkan. Beruntung tidak meledak di tengah lapangan.

Tapi kata Nikolic, "Sekarang sudah jauh lebih kalem dari pada dahulu".

"Setidaknya tak seperti 1990-an atau awal 2000-an. Polisi sekarang sudah lebih siap terhadap peluang bentrok. Selain itu, hukuman dari penggiat olahraga di negeri ini juga sudah sangat berat terhadap pelanggar hukum di kegiatan keolahragaan, termasuk suporter," tuturnya lagi.

Pengalaman berbeda diutarakan Jokanovic sang arsitek Fulham. Menurutnya, ada perbedaan saat Yugoslavia masih berideologikan komunisme. Tapi, ia tak mampu menjelaskannya.

"Saya tidak tahu kenapa. Saya dulu menyaksikan pertandingan dari tribun ultras. Saat itu lebih tenang, lebih kalem meski lebih banyak orang ketimbang sekarang. Menariknya, nyaris tidak pernah ada kekerasan," kenangnya.

Pertandingan Sepak Bola yang Berujung Perang
Baik Red Star maupun Partizan sama-sama dibentuk usai Perang Dunia II tahun 1945 silam. Red Star dibentuk oleh orang-orang berlatar belakang kepolisian, sementara Partizan dari kemiliteran.

"Waktu itu orang-orang di lingkungan militer dan komunis Yugoslavia adalah pendukung Partizan. Bisa dibilang mereka akhirnya adalah orang Serbia. Sementara orang-orang Yugoslavia beraliran republik selalu mendukung Red Star," jelas Nikolic.

Akan tetapi, Nikolic membantah kalau sepak bola di Serbia (atau negara-negara pecahan Yugoslavia) terlalu berkaitan dengan politik. Memang banyak hal terjadi karena sepak bola, tapi politik tak lantas memiliki kekuatan tersendiri.

Periode 1991 sampai 1995 merupakan momen kelam buat negara-negara Balkan. Sepak bola dimanfaatkan sejumlah suporter untuk mengidentifikasikan diri mereka dan mengasosiasikan kebangsaan mereka.

"Yugoslavia masih ada di peta, tapi di lapangan sepak bola, yang ada adalah Serbia, Kroasia, dan sebagainya," tutur Nikolic lagi.

"Dulu pendukung Serbia dan Kroasia tiap bertemu di liga selalu mengusung negaranya masing-masing. Jadi misalkan Red Star bersua Dinamo Zagreb, itu seakan-akan Serbia vs Kroasia. Semua orang termasuk pendukung Partizan berharap Red Star bisa mengalahkan Kroasia demi harga diri," sambungnya.

Pertemuan Red Star dengan Dinamo Zagreb pada tahun 1990 pernah melahirkan laga bertajuk Pertandingan Sepak Bola yang Berujung Perang. Momen paling diingat adalah ketika Zvonimir Boban (eks AC Milan) menyerang polisi usai sebelumnya terjadi bentrok.

Hal itu melukai orang Serbia, khususnya pendukung Red Star (ingat bahwa Red Star dibentuk oleh anggota kepolisian). Hal itu makin memanaskan tensi antar dua negara, hingga akhirnya berimbas pada runtuhnya Yugoslavia karena tak mampu mengendalikan situasi kemananan politik. Alhasil, banyak negara-negara pecahan bermunculan.

Buat orang Serbia, keruntuhan itu disambut sebagai kemenangan besar. Buat fan Red Star dan Partizan, ini adalah momen ketika keduanya bisa berjalan beriringan menentang rezim-rezim baru yang bisa merusak keutuhan Serbia.

"Setelah Yugoslavia pecah, pendukung Red Star dan Partizan bersatu melawan rezim Slobodan Milosevic. Beberapa kali mereka juga bergabung dengan koalisi Kroasia yang menentang hal serupa. Sejak tahun 2000, sudah hilang itu, yang ada kini hanyalah olahraga, tak lebih dari itu, tak ada unsur politik, karena memang sebetulnya tak pernah ada," kata Nikolic lagi.

Video: Timnas Indonesia U-19 Ditahan Imbang Thailand
 



(ACF)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id