medcom.id, Barcelona: Bojan Krkic pernah diprediksi bakal bisa sehebat Lionel Messi. Namun prediksi itu meleset jauh. Alih-alih menjadi pesepak bola hebat, karier Bojan justru mandek.
Bojan sempat membuat kejutan ketika tampil bersama skuat utama Barcelona saat berusia 17 tahun pada 2007--2008. Ketika itu, ia langsung membuat banyak orang kagum karena bisa menyatu dengan permainan tiki-taka Blaugrana bersama sederet pemain hebat seperti Messi, Ronaldinho, dan Samuel Eto'o.
Ironisnya, hanya sampai di situ talenta Bojan merekah. Karier Bojan mulai meredup setelah menolak dipanggil ke timnas Spanyol untuk berlaga di Piala Eropa 2008.
Bojan dianggap sebagai pengkhianat sejak saat itu. Siapa sangka, kritik dan cemoohan publik Spanyol membuat Bojan minder sehingga tak bisa kembali ke performa terbaiknya.
Selama bertahun-tahun Bojan menutupi alasan menolak panggilan tim nasional dan penyebab utama yang membuat kariernya meredup. Namun, striker yang kini bermain untuk Stoke City di Liga Primer Inggris tersebut sepertinya lelah menutupi kisah yang sebenarnya. Demi menghindarkan diri dari hujatan publik, Bojan berusaha membeberkan semua yang terjadi pada enam tahun silam.
"Semuanya berjalan baik hingga Januari 2008. Saya promosi ke skuat utama, bermain di Liga Champions, dan mencetak gol. Namun semuanya berubah sejak Januari," beber Bojan.
"Kejadian bermula ketika saya menghadiri pembukaan tempat olahraga milik teman. Saya mengenakan jaket pada saat itu. Setelah acara, saya mendadak merasa sangat kepanasan."
"Saya lari ke kamar mandi lalu melepas semua baju. Saya mulai merasa pusing. Saya tidak lagi merasa sakit seperti itu selama beberapa hari. Namun rasa sakit itu kembali datang sebelum melawan Osasuna. Saya kembali merasa sangat pusing."
"Saya pusing saat di hotel jelang pertandingan. Pelatih memasang saya sejak menit pertama untuk melawan Osasuna. Saya harus melakukan sesuatu. Lalu saya memberitahu semuanya kepada dokter tim. Saya bilang sedang tidak fit. Ia memberi saya kafein dan saya langsung bermain bagus di pertandingan."
"Namun tekanan darah saya lalu menurun drastis setelah pertandingan. Saya berbaring di kasur dan mulai merasakan gejalan aneh."
"Saya dibawa oleh orang tua ke rumah sakit. Sejak saat itu saya merasa pusing setiap malam. Ini sebuah penyakit yang tidak bisa saya kontrol. Tubuh saya seperti sudah berada di titik maksimum. Saya meminum beberapa pil. Tapi saya justru mulai merasa pusing selama 24 jam."
"Semuanya berjalan dengan cepat. Saya jadi tidak menahan tekanan. Awalnya saya pikir bisa mengatasi semuanya. Namun ternyata tidak."
"Beberapa kali saya merasa baik-baik saja. Tapi saya harus meminum obat sebelum latihan dan pertandingan. Situasinya menjadi sulit ketika mendekati Piala Eropa. Saya membuat putusan untuk menolak panggilan timnas. Tubuh saya sudah mencapai limit ketika itu."
"Luis Aragones selaku pelatih Spanyol pada saat itu sudah berbicara dengan saya. Ia bilang untuk membawa saya ke Piala Eropa 2016. Pengumuman itu tentu sebuah hal yang membanggakan bagi pemain berusia 17 tahun. Lalu saya menjawab 'Tidak. Saya sedang mengkonsumsi beberapa pil obat. Saya ke sini untuk latihan. Namun saya tidak bisa ikut serta ke Piala Eropa."
"Saya takut hal buruk terjadi kepada saya saat Piala Eropa berlangsung. Saya begitu sakit hati, sedih, dan kecewa tidak bisa memperkuat timnas. Situasinya memburuk ketika media massa memberitakan soal keengganan saya tampil untuk timnas. Sejak saat itu publik menghujat saya karena telah menolak panggilan membela negara."
"Semuanya sudah terjadi. Saya tidak bisa menyalahkan publik. Saya juga tidak menyesali memutuskan untuk istirahat saat Piala Eropa 2008 berlangsung. Anda tidak tahu rasanya pusing selama 24 jam dan setiap hari. Saya merasakan sakit seperti itu selama lima bulan. Saya tidak pernah bangun dari tidur dan merasa sehat pada saat itu," tutup Bojan. (Football Espana)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(HIL)
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan