Piala Dunia 2018 Mungkin Milik Eropa Lagi
Timnas Jerman (Istimewa)
Kick off Piala Dunia 2018 Rusia sudah di depan mata. Kurang dari hitungan jari sebelah tangan. Bukan cuma pencinta sepak bola, sekarang orang yang bukan penikmat balbalan pun mulai berani buka pendapat soal pesta bola empat tahunan itu. 

Begitu adanya. Sejak dulu. Sihir Piala Dunia memang melanakan, juga menyilaukan. Tak peduli siapa dan darimana mereka, begitu juga publik di Tanah Air. Meski direpotkan dengan urusan mudik dan persiapan Lebaran, toh mereka tak sedikit pun memicingkan fokus dari Piala Dunia ke-21 itu.

Kalau sudah begitu, semua sisi sepak bola jadi barang seksi. Gurih buat diperbincangkan. Apakah itu negara kontestan, pemain, suporter, sampai...ah, pokoknya apa pun lah tentang bola sepak.


Nah, tulisan ini coba mengulas salah satu sisi itu. Tapi, ya tidak serius-serius amat. Cuma obrolan warung kopi. Jadi, kalau keliru-keliru sedikit tidak fatal karenanya.

Sepanjang pergelaran Piala Dunia, mulai dari yang pertama (1930) sampai ke-20 pada 2014, selalu saja ada mitos yang tak pernah terkubur. Cerita tradisional itu: tim Benua Amerika akan sangat sulit mengangkat tropi bila Piala Dunia digelar di Eropa. Sebaliknya, kesebelasan dari Benua Eropa pun akan mpot-mpotan merengkuh gelar pada World Cup yang dilangsungkan di Benua Amerika.

Pengecualian hanya pernah terjadi pada Piala Dunia 1958 di Swedia dan Piala Dunia 2014 di Brasil. Skor untuk kedua benua 1-1. Brasil juara di Swedia, sedangkan Jerman 'menguasai' Brasil.

Dua benua juga berbagi skor sama kuat ketika Piala Dunia dilaksanakan di luar Benua Merah dan Benua Biru. Brasil menjuarai Piala Dunia 2002 Jepang-Korea Selatan, sementara Spanyol memungkasi World Cup 2010 Afrika Selatan.

Saya coba buat survei. Tapi, sigiala-ala. Jadi boro-boro memperhitungkan margin error, jumlah respondennya pun alakadarnya: kawan-kawan yang rutin kongkow di Table 26, tempat kami biasa menyeruput kopi saja.

Namun, dari yang tak seberapa itu, satu dua orang adalah penggila bola, sebagian biasa-biasa saja, dan sebagian lainnya sama sekali buta sepak bola. Tapi, karena memang lagi demam bola, si 'oknum' ini jadi sok-sokan menggemari bola sepak.

Begini pertanyaan untuk para responden; 16 dari 20 turnamen, Piala Dunia diperebutkan di Eropa dan Amerika. Hasilnya, skor sama kuat: 8-8. Ndilalahnya, yaitu tadi, kalau Piala Dunia dihelat di Amerika, juaranya pasti negara Benua Amerika. Kalau di Eropa, juaranya ya negara-negara Eropa.

"Ah itu mah kebetulan," kata Sobih Adnan, salah satu sampel yang masuk kategori buta bola, namun tetap mau menjawab kuisioner. "Jauhlah, mitos-mitos itu."

"Siapa bilang mitos itu sudah mati," Rizky 'Bang Dul' Yanuardi, rekan saya lainnya, menimpali pendapat Sobih. 

Misbahol Munir, teman kami asal Madura, Jawa Timur, menguatkan pendapat Bang Dul. "Silang pendapat tentang itu pasti terjadi, tapi mitos itu akan selalu hidup sepanjang masih ada Piala Dunia."

Namun, Abdul Kohar, tak sepakat. Menurut senior saya itu mitos di atas sudah patah dan terkubur sejak Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil. Dan, sebagai penggemar berat tim Samba, Mas Kohar--begitu kami menyapa--meyakini, "Kali ini Brasil juaranya!"

Semua jawaban sah-sah saja. Namanya juga survei ala kadar. Hanya, menilik jawaban 'responden' Table 26, probabilitas yang mengamini bahwa mitos itu lebih unggul dibanding yang mengatakan tidak.

Hmmm... jangan-jangan, trofi Piala Dunia 2018 memang bukan untuk negara-negara Amerika. Kalau iya, lantas siapa juaranya?


Jerman diunggulkan

Rumah bursa taruhan William Hill belum lama ini pernah mengeluarkan terawangan mereka. Menurut hitung-hitungan mereka, Jerman menjadi tim yang paling diunggulkan membawa Piala Dunia ke-21 Rusia dengan koefisien 5,5 (semakin kecil nilai koefisien semakin tinggi pula peluang satu tim untuk juara).

Brasil, kesebelasan kesayangan Mas Kohar, ada di bawah Jerman. Tim yang sudah lima kali menjuarai PialaDunia (1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002) ini memunyai koefisien 6. Menyusul di tempat ketiga, tim Ayam Jantan Prancis. Juara Piala Dunia 1998 yang hancur lebur di Piala FIFA berikutnya itu mengantongi koefisien 6,5.

Spanyol, juara Piala Dunia 2010, berstatus unggulan keempat dengan koefisien 8. Menyusul Argentina di tempat kelima. Dua kali juara Piala Dunia (1978 dan 1986) yang kini memiliki mesiah Lionel Messi itu diberi nilai koefisien 9.

Belgia menempati unggulan keenam. Rode Duivels Diables Rouges menjadi satu-satunya tim jagoan yang belum pernah sekali pun mengecap gelar Piala Dunia maupun Piala Eropa. Belgia diberi angka koefisien 13.

Persis di bawah Belgia ada Inggris, juara Piala Dunia 1966, dengan koefisien 17. Unggulan kedelapan ditempati dua kali juara Piala Dunia (1930 dan 1950) Uruguay dengan nilai indeks 26. Juara Piala Eropa 2016 Portugal menyusul dengan angka koefisien 28. Unggulan kesepuluh menjadi milik Kolombia, perempatfinalis Piala  Dunia 2014.

Tujuh dari 10 tim unggulan versi rumah bursa William Hill berasal dari Benua Eropa. Peluang negara Eropa menjadi juara di tanah mereka jelas lebih besar. Tapi, jangan lupa, seperti kata pepatah: "bola itu bundar". Hasil akhir sebuah kejuaraan tak jarang bisa menjungkir-balikkan prediksi, juga akal sehat.

Video: Gol Hakan Sukur Masih Jadi yang Tercepat
 



(RIZ)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id