Selebrasi Gol dan Evolusi Keindahan Sepak Bola
Selebrasi nyeleneh ala Mario Balotelli (Foto: Google Image)
CRISTIANO Ronaldo membuat hattrick! Pemain sepak bola terbaik dunia itu membungkam para fans Spanyol yang merasa telah berada di ujung kemenangan. "Ronaldo Steals The Game", begitu judul headline sejumlah media di Barat.

Ronaldo mencuri perhatian penonton, dan mengambil seluruh pertunjukan indah menjadi miliknya, dalam pertandingan antara Portugal vs Spanyol, beberapa hari lalu. Selebrasi Ronaldo tampak begitu lepas, bahkan menghadirkan sesuatu yang terasa "spiritualistik." Momen Piala Dunia 2018 di Rusia semakin menguatkan kedigjayaan Ronaldo.

Selebrasi gol tidak hanya menghadirkan keindahan sepak bola. Bersama selebrasi, sisi paling humanis manusia terangkat tinggi. Bahkan, hakekat permainan sepak bola menyentuh titik absurd. Sesekali tersaji adegan cerdas, menggugah, menghibur, memprovokasi, tetapi bisa juga terlihat ngacau, sekenanya, juga naif.


Selebrasi bisa berwajah kontroversial, menantang ukuran kepatutan, malahan bisa menghadirkan ekstrimitas. Selebrasi, ibarat kuda liarnya Sigmund Freud, selalu sanggup berlari bebas di tengah padang nan luas. Selebrasi ikut menciptakan ukuran kebebasan, ketika aturan demi aturan makin diperketat dalam laga sepak bola.
 

Baca: Pariwisata Olahraga dan Mimpi Jadi Tuan Rumah Piala Dunia


Karl Matchett menyebut selebrasi gol sangat unik. Ia memberi catatan terhadap 20 selebrasi gol paling menarik dalam sejarah sepak bola. Selebrasi, dalam catatan Matchett, merupakan jagad kecil emosi yang dalam sekejap berubah menjadi erupsi. Kemunculannya tak selalu dipicu oleh kematangan emosional. Malah sebaliknya. Ia menyuguhkan perasaan sukacita khas anak-anak. Wujudnya bisa berupa kegilaan sesaat, bisa pula terasa menggugah, lalu meninggalkan kesan mendalam.

Jangan keliru, ada pula selebrasi cerdas. Dalam pandangan Mikhail Turner, bentuk selebrasi gol hari ini tampil beda. Selebrasi mengerucut, bahkan memusat menjadi ekspresi just for fun, hanya untuk senang-senang. Kontroversi, lucu-lucuan, iseng, dan godain lawan tanding, menjadi inti penggeraknya. Singkatnya, cerdas dalam selebrasi gol adalah cerdas dalam menampilkan aksi yang memancing respons menghibur penonton.

The joy of scoring, perasaan sukacita mencetak gol, menurut Rohit Roy, adalah segalanya dalam sepak bola. Perasaan itu tak tertandingi oleh kesukaan yang lain. Dari 12 selebrasi gol paling ikonik dalam sejarah sepak bola, Roy mencatat bahwa selebrasi gol menentukan definisi keindahan laga sepak bola.

Selebrasi bukan saja menyatukan perasaan para pemain, pelatih dan fans. Selebrasi juga membentuk citra diri sang pencetak gol. Anda bisa bayangkan bagaimana selebrasi gol mengukir ingatan pencinta bola pada kehebatan, juga kontroversi, sosok Diego Maradona, Bebeto, Juergen Klinsmann, Paul Gascoigne, Alan Shearer, Eric Cantona, Ronaldo atau Lionel Messi.

Ada pertanyaan menarik: bagaimana selebrasi gol bisa diukur dan diperbandingkan? Mana selebrasi yang lebih ikonik, lebih kontroversial, lebih cerdas, lebih spektakuler, lebih gila?

Robin Edds membuat cara pengukuran yang cerdas terkait soal selebrasi gol. Robin membuat tiga indikator pengukuran. Antara lain tingkat orisinalitas selebrasi (originality), tingkat kesulitan membuat selebrasi (difficulty), dan gaya selebrasi yang dihasilkan (style).

Tiga indikator itu dibuat dalam bentuk skala, dengan skor mulai dari satu sampai sepuluh. Makin tinggi nilai skor dalam skala, makin tinggi pula nilai selebrasi gol.

Robin menggunakan sebagian besar bentuk selebrasi yang dipilih secara khusus dalam Liga Primer Inggris, ditambah beberapa liga terkenal lainnya. Bentuk selebrasi dan siapa yang membuatnya disusun berdasarkan skor tertinggi hingga terendah. Angka 30 merupakan skor tertinggi.

Berikut hasil pengamatan Robin Edds. Skor disusun dari 18 jenis selebrasi gol, mulai dari skor paling tinggi hingga terendah.

1. The Catch of the Day. Para pemain Stjarnan FC. Islandia merayakan gol dengan membuat formasi jenaka. Salah seorang pemain dibopong dengan posisi berbaring sambil menari.


2. The Catherine Wheel. Trésor Lomana Lua Lua, pemaian asal Kongo yang merumput di Liga Primer, merayakan gol yang dibuatnya dengan melakukan salto ke belakang berkali-kali.

3. The Klinsmann Dive. Jurgen Klinsmann merayakan gol dengan cara berlari kencang lalu menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dan bergerak hingga beberapa meter ke depan.

4. The Phil Brown. Jimmy Bullard dari Hull City selepas mencetak gol langsung dikelilingi teman-teman satu tim dalam posisi duduk. Jimmy tampak berdiri di tengah dan membuat adegan seperti tengah memberi pengarahan ke teman-teman satu timnya.

5. The Ba-LOL-telli. Mario Balotelli memiliki kebiasaan membuka kaos bagian depan selepas mencetak gol. Setelah dibuka, pada kaos bagian dalam terbaca tulisan, "why always me?". Tulisan itu sebagai bentuk keresahan hatinya yang saat itu kerap jadi sasaran kritik.


6. The Dentist's Chair. Paul "Gazza" Gascoigne, selepas mencetak gol, dengan posisi telentang di lapangan, kepala diangkat sedikit, lalu mulutnya diguyur minuman mineral dari rekan satu timnya.

7. The Sturridge Squirm. Daniel Sturridge melakukan joget tidak jelas, cengar-cengir, seusai mencetak gol.

8. The "Wow. I'm good". Eric Cantona yang emosional tiba-tiba berubah tenang dan bijak. Selepas mencetak gol dia berjalan tenang, serasa tengah berkata kepada dirinya sendiri, "gue gitu loh!"


9. The Cartwheel into Forward Roll into Gun Fingers. Robbie Keane demikian gembira seusai mencetak gol. Ia melakukan salto beberapa kali lalu tangannya tampak seperti tengah melakukan tembakan.

10. The Robot. Peter Crouch dengan gaya aneh melakukan tari breakdance, adegan patah-patah, selepas mencetak gol.
 

Baca juga: Sihir Kuliner di Piala Dunia


11. The Passion of the Footballer. Marco Tardelli dan Alan Shearer, berlari panjang demikian semangat, lebur dalam suka cita seusai mencetak gol.

12. The Raging Bull. Temuri Ketsbaia menendang papan iklan, melampiaskan emosinya sehabis mencetak gol, hingga harus ditarik oleh kawan satu timnya.

13. The Psycho. Stuart Pearce melakukan selebrasi dengan ekspresi yang kuat, meneriakkan kata-kata tertentu, lalu menggerakkan tangannya seolah tengah mengusir roh jahat.

14. The Messiah. Wayne Rooney melakukan selebrasi dengan menengadahkan wajahnya ke langit, dua tangannya terbentang, dan sejumlah perkataan meluncur dari mulutnya.

15. The Trouble Maker. Luis Suarez melakukan gaya diving sekenanya, menjatuhkan diri ke lapangan rumput, sekadar mengolok-olok lawan tanding.

16. The Hearts. Gareth Bale melakukan selebrasi menjadi sosok romantis dan jinak, jari-jemari kedua tangannya membuat formasi gambar jantung tanda kasmaran.

17. The Dad Dance. Sir Alex Ferguson & Brian Kidd menari mirip seorang bapak yang menari setelah Manchester United mencetak gol.

18. The Salute. Alan Shearer melakukan adegan salam hormat selepas mencetak gol.


Pada akhirnya, selebrasi gol turut menandai bagaimana evolusi keindahan terjadi terus menerus dalam jagad permainan sepak bola. Selebrasi gol memerlukan lebih banyak penjelasan baru, juga tafsir baru, terutama jika dikaitkan dengan beberapa faktor penting. Di antaranya adalah politik, ekonomi, budaya, agama, sains, dan kesehatan.

Dalam jangka waktu yang panjang, kita pun juga akan makin kaya dalam memahami, menganalisis, dan menikmati indahnya sepak bola.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Krasnaya Ploshad




(ACF)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id