Lionel Messi. (Foto: AFP PHOTO / Johannes EISELE)
Lionel Messi. (Foto: AFP PHOTO / Johannes EISELE)

Benang Kusut Sampaoli yang Melilit Messi di Timnas Argentina

Bola lionel messi piala dunia 2018 timnas argentina
Gregah Nurikhsani Estuning • 22 Juni 2018 18:01
Jakarta: Lionel Messi menjadi bulan-bulanan setelah urung mengangkat performa Argentina di Piala Dunia 2018. Banyak pihak memprediksi bahwa usai kompetisi berakhir La Pulga akan langsung pensiun. Padahal, salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas buruknya performa Albiceleste tak lain adalah pelatih kepala Jorge Sampaoli.
 
Kekalahan atas Kroasia pada matchday kedua Grup D Piala Dunia 2018 memang belum memupus asa tim Tango untuk melaju ke babak 16 besar. Akan tetapi, sorotan tajam mengarah telak ke skuat besutan Jorge Sampaoli tersebut.
 
Sebagai kapten, Messi menjadi pemain yang paling disorot karena performa tidak meyakinkan negaranya di dua laga Piala Dunia sejauh ini. Ditambah, bintang Barcelona itu belum membukukan satu gol pun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Pada pertandingan pembuka menghadapi Islandia, Messi gagal mencetak gol lewat titik putih. Skor imbang 1-1 semakin membuat kapasitasnya makin dipertanyakan, baik sebagai peraih Ballon d'Or sebanyak lima kali, mau pun kapten tim.
 
Hernan Crespo beberapa hari lalu memberikan pembelaan kepada Messi. Ia menyebut bahwa seorang Messi tidak membutuhkan trofi Piala Dunia untuk membuktikan bahwa dirinya adalah yang terbaik.
 
"Dia layak menjuarai Piala Dunia. Kalau menang, dia akan menjadi pemain terbaik, kalau tidak, dia juga tetap menjadi pemain terbaik. Kita bisa dengan mudah menyebut pemain-pemain hebat yang tidak pernah memenangi Piala Dunia, Johan Cruyf, Platini, saya tidak ingat mereka pernah melakukannya," kata mantan striker Argentina itu kepada BBC.
 
Apa yang diutarakan Crespo memang tidak salah. Lagi pula, membebankan semuanya kepada Messi seorang tidaklah tepat. Sebetulnya banyak faktor yang membuat Argentina melempem, termasuk saat dibantai Kroasia dengan skor 0-3.
 
Sampaoli sebagai arsitek tim juga punya andil besar dalam buruknya permainan Argentina dalam dua laga pembuka Piala Dunia 2018. Dari sisi teknis, terutama saat menghadapi Kroasia, 'eksperimen' menggunakan tiga bek dengan winger bertipe ofensif berakhir fatal.
 
Dua winger yang dimaksud adalah Eduardo Salvio (kanan) dan Marcos Acuna (kiri). Hal tersebut membuat pertahanan Argentina kewalahan ketika Kroasia menggempur melalui sayap karena Salvio dan Acuna tidak memiliki atribut yang baik dalam bertahan. Alhasil, garis tiga bek yang seharusnya rapat dan sejajar dibuat 'melar' lewat tusukan lawan dari sisi luar.
 
Yang paling parah adalah, membangkucadangkan salah satu pemain terbaik Serie A Italia, Paulo Dybala, dengan gelandang serang Maximiliano Meza. Ini perjudian kedua Sampaoli, dan kalah.
 
Tidak sampai di situ, hadirnya Enzo Perez yang notabene 'pemain waiting list' sebelum Manuel Lanzini mengalami cedera hamstring juga bisa dianggap blunder fatal. Menengok bangku cadangan Argentina, Sampaoli seyogyanya memainkan Lucas Biglia atau Ever Banega di tengah. Jangan lupakan pula Lo Celso yang bisa saja menjadi kartu as tim Tango.
 
Tanpa mendiskreditkan Perez dan Meza, Sampaoli harusnya sadar lini tengah Kroasia yang dihadapinya diisi oleh dua jenderal macam Luka Modric dan Ivan Rakitic. Jangan lupakan pula peran Marcelo Brozovic yang spesial di laga tersebut; menopang Modric dan Raktic. Hasilnya, Argentina tak kuasa menahan agresivitas Kroasia, Mario Mandzukic tak masalah menjadi 'clickbait' buat pemain lain yang berani bermanuver bebas ke jantung Nicolas Otamendi cs.
 
Bakal panjang membahas blunder Sampaoli. Satu hal yang bisa dimaklumi, Sampaoli tidak memiliki stok kiper yang mumpuni meski keputusannya tidak memanggil kiper nomor 1 Argentina di Piala Dunia 2014, Sergio Romero tetap layak dipertanyakan. Willy Caballero, Franco Armani, dan Nahuel Guzman, tiga penjaga gawang yang dibawa ke Rusia belum bisa menjadi jaminan mutu.
 
Seperti terurai sebelumnya, Piala Dunia 2018 bisa saja menjadi kompetisi internasional terakhir Messi bersama timnas Argentina. Kali ini, kemungkinan besar tidak akan dibatalkan lagi oleh dia sendiri.
 
Dua tahun lalu, Messi pernah menyatakan pensiun dini dari timnas Argentina. Namun, ia memilih jalan U-Turn, kembali ke Timnas dan berharap bisa memberikan gelar Piala Dunia yang terakhir kali diraih Diego Maradona dan kawan-kawan tahun 1986 silam. Sejauh ini, nasib La Albiceleste sangat memprihatinkan.
 
Menanti pengumuman pensiun dari Messi, menurut Pablo Zabaleta, bukanlah hal yang mengejutkan. Ia menilai tahun ini adalah kesempatan terakhir buat striker yang akan berulang tahun ke-31 pada Minggu esok itu mengangkat trofi Piala Dunia 2018.
 
"Saya kasihan kepada Messi. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memenangi sesuatu bersama Argentina. Jadi saya tidak heran melihat dia pensiun setelah Piala Dunia ini," kata Zabaleta.
 
"Rakyat Argentina pasti marah besar sekarang. Mereka nyaris juara di (Piala Dunia 2014) Brasil, kemudian gagal lagi di final Copa America dua kali berutut-turut. Makanya Argentina lapar gelar, dan Piala Dunia 2018 adalah peluang terbaik," tambahnya.
 
Video: Salam dari Rusia, Jalan-jalan di Krasnaya Ploshad

 

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif