Stadion Mandala Krida dipenuhi penonton sebelum rusuh supoter PSIM-Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Stadion Mandala Krida dipenuhi penonton sebelum rusuh supoter PSIM-Medcom.id/Ahmad Mustaqim

PSIM vs Persis: Kalah, Suporter PSIM Rusuh

Bola sepak bola liga 2 indonesia
Ahmad Mustaqim • 21 Oktober 2019 23:01
Laga PSIM vs Persis berlangsung dengan tensi tinggi. Sebelum rusuh, ucapan-ucapan rasisme dari tribun PSIM terlontar di sejumlah momen.
 
Yogyakarta: Kiprah PSIM Yogyakarta berujung mengecewakan. Mereka gagal lolos ke babak delapan besar dan menutup kompetisi dengan kerusuhan suporter. Kerusuhan disertai intimidasi terhadap jurnalis, hingga ada pembakaran mobil milik kepolisian.
 
Memulai kompetisi Liga 2 Indonesia 2019 bersama investor anyar, optimisme PSIM sempat melambung tinggi. Pemain terbaik Liga 2 2018, Ichsan Pratama; eks pemain Timnas Indonesia Cristian Gonzales; hingga eks pemain Persib Bandung dan Persebaya, Raphael Maitimo didaratkan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Sayang, belum setengah kompetisi berjalan, pelatih Vladimir Vujovic harus didepak. Vlado, sebutan Vladimir Vujovic, kemudian diganti Aji Santoso, yang notabene eks pelatih Arema dan Persela Lamongan.
 
Di bawah nakhoda Aji, Maitimo didepak. Eks pemain PSS Junius Bate, serta sejumlah pemain dari Liga 1 maupun Liga 2 digaet. Yang menarik, PSIM merekrut Witan Sulaeman, penggawa Timnas Indonesia U-22.
 
Awal Aji memimpin tim, PSIM tampil baik. Sayang, pada enam laga belakangan PSIM hanya menang sekali dan kalah lima kali. Pemain-pemain berlabel, maupun pemain bintang yang direkrut, seperti tak cukup buat klub berjuluk Laskar Mataram itu.
 
Pada dua laga terakhir penyisihan grup Liga 2, PSIM kembali mengganti pelatih. Dari Aji Santoso, PSIM kemudian dilatih Liestiadi. Liestiadi ditemani sang asisten, Erwan Hendarwanto, yang merupakan legenda PSIM.
 
Keduanya memang tak punya banyak waktu meracik tim. PSIM memang menang 2-0 saat menjamu Persatu Tuban. Peluang lolos ke delapan besar terjaga hingga laga terakhir wilayah timur. Syaratnya, mereka harus mengalahkan Persis Solo di Stadion Mandala Krida, Senin 21 Oktober 2019. Dan di partai lainnya, Martapura FC kalah atau imbang dengan PSBS Biak.
 
Sebelum kick off melawan Persis, peluang PSIM dipastikan sirna. Sebab, Martapura FC mampu menang 1-0 saat tandang melawan Biak.
 
Akhirnya, menjalani laga kontra Persis Solo, PSIM tanpa harapan. Kedua tim memang tampil baik. Saling serang menyertai laga selama 90 menit.
 
Sayang, PSIM tak mampu memanfaatkan dukungan 19.171 penonton yang memenuhi Stadion Mandala Krida. Mereka justru kalah 2-3 dari Persis di laga pamungkas wilayah timur. Tiga gol ke gawang PSIM dicetak pemain berbeda, yakni Hapidin (menit 25), Slamet Budiono (menit 58), dan Nanang A. (menit 62). PSIM membalas lewat dua gol Cristian Gonzales, pada menit 36 dan 68.
 
Rasisme dan Tindak Anarkis
 
Laga PSIM melawan Persis memang berlangsung dengan tensi tinggi. Ucapan-ucapan rasisme dari tribun PSIM terlontar di sejumlah momen. Misalnya, saat suporter menyanyikan dukungan untuk PSIM. Di sela nyanyian diselipkan ucapan rasisme.
 
Aura panas terjadi setiap pemain Persis selesai mencetak gol. Berbagai benda terlontar dari tribun suporter ke pemain maupun ke tempat duduk pemain dan ofisial Persis. Mulai dari gelas dan botol air mineral, botol minuman, hingga nasi bungkus dan batu.
 
Saat laga bubaran, kerusuhan pun pecah. Para suporter sempat mengadang mobil kepolisian yang mengevakuasi para pemain hingga ofisial Persis.Polisi sampai harus menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi rusuh suporter. Sayang, upaya itu tak langsung berhasil.
 
PSIM vs Persis: Kalah, Suporter PSIM Rusuh
Kapolresta Yogyakarta Komisaris Besar Armaini-Medcom.id/Ahmad Mustaqim
 
"Bukan hanya Brajamusti, tapi juga suporter yang kena (gas air mata). Saya juga kena. Ini mau nonton bola atau mau ribut?" ucap Kapolresta Yogyakarta Komisaris Besar Armaini di Stadion Mandala Krida.
 
Kerusuhan berlangsung hingga malam. Setidaknya dua mobil milik aparat kepolisian dibakar. Hingga sekitar pukul 20.30 WIB, sejumlah suporter PSIM dibawa ke kantor polisi dari Simpang Empat Wirobrajan. Para suporter itu ditelanjangi tanpa mengenakan kaus.
 
Armaini mengatakan, suasana mencekam berawal setelah pertandingan selesai dengan kekalahan tim tuan rumah. Sebagian suporter yang kecewa kemudian melakukan tindakan anarkis.
 
"Mereka menyerang proses evakuasi pemain lawan yang kepolisian lakukan. Mobil kita diadang sama Brajamusti yang kecewa itu. Alhamdulillah pemain Persis bisa dibawa keluar (stadion) selamat," kata dia.
 
Usai rusuh di dalam stadion, kerusuhan pindah di luar stadion. Gas air mata ditembakkan di sisi barat stadion. Sejumlah suporter, khususnya perempuan, banyak yang lemas dan akhirnya mendapat pertolongan.
 
Selain itu, para suporter juga melakukan perusakan. Armaini mengatakan, ada oknum suporter yang memecahkan kaca. Armaini mengaku sempat memukul suporter itu.
 
"(Suporter) melakukan perusakan, dihentikan kepolisian untuk menghentikan tindakan anarkis. Kita tunggu bersama lah," kata dia.
 
Ia mengatakan, peristiwa itu memang tak menimbulkan korban jiwa. Namun, kata Armaini, kasus ini menjadi bagian evaluasi pemberian izin PSIM berkandang di Stadion Mandala Krida. Ia tak bisa memastikan, apakah PSIM bisa berkandang di Stadion Mandala Krida atau tidak pada musim depan.
 
"Kita nanti akan berbicara dengan Panpel, termasuk pemerintah daerah. Nanti semua akan kita evaluasi. Kita sayangkan, ini kan stadion baru. Apalagi rencananya ke depan akan ada even internasional," ungkapnya.
 
Hingga berita ini ditulis, tak ada keterangan dari pihak PSIM maupun Panpel ke media. Usai pertandingan yang berujung kerusuhan, berbagai pihak langsung membubarkan diri.
 
Video: Gara-Gara Suporter Liverpool dan Manchester City Kena Denda

 

(RIZ)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif