Joko Driyono (Antara/Reno Esnir)
Joko Driyono (Antara/Reno Esnir)

PSSI Klaim Gandeng Polisi Perangi Pengaturan Skor Sejak 2017

Bola pssi
Rendy Renuki H • 20 Januari 2019 21:07
Jakarta:Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, mengklaim telah memerangi praktik pengaturan skor jauh sebelum kasus ini mencuat ke publik. Bahkan, ia mengatakan PSSI telah bekerja sama dengan kepolisian menuntaskan masalah tersebut sejak 2017.
 
Praktik -praktik pengaturan skor memang kerap menjadi momok bagi federasi sepak bola di seluruh dunia. Fenomena ini pun menjadi wabah, tak terkecuali hingga ke Indonesia.
 
Joko menjelaskan, sejak dua tahun lalu PSSI sudah memerangi match-fixing, di mana PSSI sudah membentuk departemen integritas. Departemen tersebut bertugas menekan praktik-praktik manipulasi skor di semua level kompetisi di bawah PSSI, dari level liga amatir sampai profesional.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pembentukan departemen integritas ini sesuai arahan FIFA pada 2017 lalu. Tim ini sesuai dengan rekomendasi anggota Komite Eksekutif PSSI. Kemudian terbentuk Tim Adhoc," kata Jokolewat penyataan yang diterimaMedcom.id,Minggu 20 Januari.
 
"Tim bertugas merespons match-fixing, dan bekerja sama selama satu tahun," sambung mantan Direktur PT Liga Indonesia tersebut.
 
Dalam bertugas, Joko melanjutkan, tim ini bersinergi dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Interpol. Bahkan, menurut Joko, MoU antara PSSI dan Polri beserta Interpol sudah terjalin untuk memerangi kecurangan-kecurangan di lapangan hijau.
 
Sementara, mengenai status Iwan Budianto, Joko menjelaskan, PSSI mengembalikan statusnya sebagai Wakil Ketua Umum PSSI sesuai keputusan Kongres di Surabaya, 10 November 2018. Dia resmi meninggalkan jabatan Kepala Staf PSSI pada Kongres tahunan 2019 di Nusa Dua, Bali. Kongres pun menyetujui, dan memberikan rekomendasi pengisi posisi kosong Komite Eksekutif.
 
Selama sepekan ini, Komite Eksekutif bakal melakukan penjaringan. Muncul nama Umuh Muchtar sebagai salah satu kandidat anggota Exco yang diusulkan oleh manajer Madura United, Haruna Sumitro.
 
Dalam Kongres tahunan di Pulau Dewata juga keputusan besar diambil Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi. Dia memutuskan mundur sebagai Ketum di tengah aksi 'bersih-bersih' satuan tugas pengaturan skor. Joko meminta publik tetap berpikiran positif.
 
"Jangan mengaitkan keputusan Edy dengan skandal penganturan skor. Semua keputusan dia, harus mendapat respons positif, sebagai babak baru pengelolaan PSSI," pungkasnya.
 

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi