Kebersamaan Rafael Benitez dengan penerjemahnya di klub Tiongkok, Dalian Yifang. (Photo by STR / AFP)
Kebersamaan Rafael Benitez dengan penerjemahnya di klub Tiongkok, Dalian Yifang. (Photo by STR / AFP)

Penerjemah Ibarat Istri di Sepak Bola Tiongkok

Bola soccertainment liga dunia
Kautsar Halim • 30 Oktober 2019 17:26
Jakarta: Sepak bola Tiongkok terpantau makin menarik dengan kehadiran pelatih dan pemain asing level dunia beberapa tahun belakangan ini. Namun, progres itu tidak datang begitu saja.
 
Faktor perbedaan budaya, khususnya bahasa, menjadi kendala tersendiri bagi pemain dan pelatih asing yang mengadu nasib di Tiongkok. Untuk mengatasinya, ternyata mereka sangat butuh penerjemah.
 
Saking pentingnya peran penerjemah, AFP bahkan mengibaratkan mereka sebagai istri pemain maupun pelatih asing yang menggunakan jasanya. Sebab, tugas penerjemah di sana bukan hanya mengonversi bahasa.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


  Rafael Benitez yang kini melatih Dalian Yifang memiliki penerjemah bernama Justin. Dia menjelaskan bahwa Justin harus paham kepribadian dirinya agar informasi yang diberikan bisa tersampaikan dengan jelas kepada lawan bicaranya.
 
"Penerjemah selalu ada di sisi seperti bayangan. Bahkan, Justin penerjemah saya, meniru gerakan saya juga saat latihan dan bertanding agar kami makin kompak tiap harinya," ujar Benitez yang pernah membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2004--2005.
 
Selain itu, ada penerjemah Hong Wenjie sudah seperti tangan kanan pelatih Guangzhou Ramp, Dragan Stojkovic. Menurutnya, kemampuan mengonversi bahasa memang hal utama sebagai penerjemah, tapi itu tidak akan berhasil jika menutup diri kepada klien.
 
"Pada awalnya, tantangan menjadi penerjemah cukup besar karena saya harus mengetahui kepribadian pelatih, termasuk kebiasaannya dan filosofi sepak bolanya," kata Hong yang sebelumnya berprofesi sebagai pemandu tur.
 
Hong menganggap profesi penerjemah itu seperti jembatan penyelamat suasana. Sebab, dia harus bijaksana mengartikan ucapan klien maupun lawan bicara apabila terdapat kata-kata yang tidak pantas.
 
Menurut Hong, kata-kata tidak sepantasnya itu biasa terlontar di ruang ganti ketika timnya tertinggal atau kalah. Kemudian, Stojkovic juga dia sebutkan pernah memprotes wasit yang merupakan hal terlarang dalam sepak bola Tiongkok.
 
"Federasi sepak bola Tiongkok memberi hukuman keras apabila mengkritik wasit, kemudian semua orang juga tahu jika cinta kepada sebuah tim pasti punya emosi kuat. Jadi, saya tidak menerjemahkan kata-kata yang sekiranya memperburuk suasana," tutur Hong.
 
Tidak berbeda dengan pengalaman yang dialami Zhao Chen selaku penerjemah mantan gelandang Beijing Enterprises FC, Chieck Tiote. Dia mengklaim punya kenangan indah bersama kliennya yang sudah meninggal dunia tersebut.
 
Tiote mengembuskan nafas terakhir setelah pingsan saat latihan pada 2017 silam. Zhao cukup terpukul karena Tiote bukan sebatas bos yang hanya perlu terjemahan bahasa. Dia menyebutkan Tiote sudah seperti teman akrab juga untuk hal di luar sepak bola.
 
Satu hal yang paling dikenang Zhao adalah ketika mencarikan Tiote masjid untuk beribadah salat Jumat. "Sebagai pemain asing Muslim, bukan perkara mudah mencari masjid untuk salat Jumat di sini," aku Zhao.
 
Meski mengalami pengalaman pahit, Zhao yang berusia 28 tahun tetap konsisten sebagai penerjemah bahasa. Namun tempatnya bekerja kini pindah ke Shijiazhuang Ever Bright yang merupakan tim kasta kedua. (AFP)
 

 

 

 

(KAH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif