Untuk kategori U-8 masih menyisakan tiga pertandingan lagi sebelum juaranya ditentukan lewat koleksi poin pada hari terakhir. Sedangkan untuk kategori U-10 dan U-12, langsung dihadapkan dengan fase grup putaran kedua serta sistem gugur yang dimulai dari semfinal.
Klik: Terens Puhiri Bergabung dengan Klub Thailand
Kategori U-8 yang tidak memainkan fase gugur tentu bisa selesai dengan cepat ketimbang kategori lomba lainnya. Kemudian hasilnya pun bisa diketahui lebih dini karena selisih poin antar tim yang terlampau jauh sejak pekan sebelumnya.
Suasana kompetisi baru terlihat dramatis ketika para pemain U-10 dan U-12 berjuang keras merebut tiket final. Pasalnya, tidak jarang ditemui anak-anak yang menangis atau kecewa ketika timnya dinyatakan gugur.
Salah satu pemain Maesa Jakarta U-10 tak kuasa menahan tangis lantaran gagal ke final

Selain mendapat pelukan para orang tua yang mendampingi, panitia event juga sebisa mungkin menjaga perasaan anak-anak agar tidak tenggelam dalam kekecewaan. Oleh karena itu, empat tim yang lolos ke semifinal tetap disediakan apresiasi yang menarik.
Klik: Bali United Sepakat Ikut Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2018
Seperti dijelaskan Dede Supriyadi selaku Direktur Kompetisi IJSL 2017, perbedaan hadiah dari juara 1 sampai dengan 4 hanya besar ukuran trofi saja. Sementara itu, untuk perlengkapan latihan yang diberikan untuk juara 1 hingga 3 bisa dibilang tidak ada perbedaan.
"IJSL ini sebenarnya pembelajaran. Jadi, jangan lihat dari menang atau kalahnya sebuah tim di sini. Sebab, yang terpenting itu adalah anak-anak bisa berkembang dengan baik," ujar Dede kepada Medcom.id.
Direktur Kompetisi IJSL, Dede Supriyadi, menyerahkan trofi juara untuk Gradaya FC

Semifinal untuk kategori U-10 sempat mempertemukan Kabomania Vs Villa 2000 dan Maesa Jakarta Vs Astam. Kabomania akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Astam pada final. Sementara itu, Maesa Jakarta dan Villa 2000 tetap naik ke podium untuk menerima apresiasi sebagai juara ketiga dan keempat.
A post shared by kitasukabola (@kitasukabola) on Dec 20, 2017 at 8:23am PST
Beralih ke kategori U-12, ada Asiop Apacinti yang keluar sebagai juara pertama setelah menaklukkan Astam lewat adu penalti pada fase final. Sementara itu, Bekasi Raya dan Villa 2000 harus rela menempati posisi tiga dan keempat.
Tidak selesai memberi gelar juara 1 hingga 4, panitia event juga menyediakan satu gelar lagi untuk tim yang berani tampil sportif dan bisa menjalani kompetisi dengan baik. Gelar itu bukanlah juara kelima, melainkan sebagai tim ter-fair play.
"Gelar itu yang nilai panitia. Penilaiannya dilihat dari sikap anak-anak saat bermain di lapangan. Kemudian, pelatih dan penonton yang didominasi orang tua juga tidak pernah protes terhadap keputusan wasit," pungkas Dede.
Tim paling fair play di IJSL 2017: Indonesia Muda (atas) dan Bintang Garuda (bawah)

Musim 2017 memang telah berakhir. Namun, perhelatan IJSL 2018 bakal bergulir makin menarik pada awal Januari mendatang. Dikatakan makin menarik karena akan diseleksi juga 18 pemain terbaik untuk mengarungi ajang Gothia Cup 2018 di Tiongkok. Para anak-anak terpilih itu dipastikan juga bisa menambah pengalaman di Negeri Tirai Bambu secara gratis.
Berikut daftar juara IJSL 2017:
Juara U-8
1. Gradaya
2. Pelita Jaya
3. Serpong City SS
Juara U-10
1. Kabomania
2. Astam
3. Maesa Jakarta
4. Villa 2000
Tim Fair Play: Bintang Garuda
Juara U-12
1. Asiop Apacinti
2. Astam
3. Bekasi Raya
4. Villa 2000
Tim Fair Play: Indonesia Muda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(ACF)