medcom.id, Jakarta: Berbagai peristiwa dan hasil undian mewarnai sepak bola dunia sepanjang tahun 2015. Tak hanya itu, gelar dan rekor berhasil diciptakan klub papan atas Eropa. Bahkan peristiwa tragedi bom di Paris sempat mengguncangkan sepak bola dunia.
Berikut beberapa catatan menarik sepanjang 2015 yang berhasil dirangkum tim Metrotvnews.com:
JANUARI
Ronaldo Kembali Kalahkan Messi untuk Ballon d’Or
FIFA kembali menobatkan Cristiano Ronaldo sebagai peraih Ballon d’Or dalam gala dinner yang berlangsung pada 13 Januari 2015 di markas FIFA, Zurich. Bintang Real Madrid itu menyisihkan rivalnya, Lionel Messi dari Barcelona dan Manuel Neuer dari Bayern Muenchen.
Ronaldo mengumpulkan 37.66%. Unggul jauh dari Messi yang hanya meraup 15.76% dan Neuer 15.72%. Dengan demikian ini menjadi trofi Ballon d’Or ketiga CR7 sepanjang kariernya. Yaitu pada tahun 2008, 2013, dan 2014.
Kelayakan Ronaldo mendapatkan gelar Ballon d’Or bisa dilihat dari prestasinya yang diraih sepanjang 2014. Ia membawa Real Madrid menyabet La Decima, atau gelar kesepuluh di Liga Champions. Selain itu ia juga membantu El Real meraup gelar lainnya seperti Piala Raja Spanyol, Piala Super Spanyol, dan Piala Dunia Antarklub.
Australia Penguasa Asia
Usai resmi bergabung dengan sepak bola Asia pada 2006, Australia akhirnya meraih gelar pertama pada kejuaraan Piala Asia. Bertindak sebagai tuan rumah, mereka tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan tampil superior.
Di final, James Troisi dan kawan-kawan mengalahkan Korea Selatan dengan skor 2-1. Pertandingan sempat dalam keadaan imbang 1-1 pada waktu 90 menit, sehingga digelarnya masa perpanjangan waktu 2x15 menit. Pada menit ke-115, Troisi mampu mencetak gol penentu bagi Soceroos
MEI
Blatter di Antara Takhta dan Skandal
Josep Blatter seakan menjadi orang yang tak bisa disentuh di FIFA. Setelah hampir dua dekade menjadi orang nomor satu di badan dunia sepak bola, pada 29 Mei 2015, dia kembali terpilih untuk kelima kalinya. Dia mengalahkan nominasi lainnya, seperti Prince Ali yang akhirnya mengundurkan diri pada putaran pertama.
Uniknya pada pemilihan FIFA kali ini diwarnai beberapa kontroversi. Seperti adanya penggerebekan yang dilakukan FBI terhadap para pejabat FIFA yang dianggap telah melakukan korupsi dan penggelepan pajak.
Tujuh pejabat FIFA itu diduga telah terlibat dalam skandal korupsi senilai lebih dari USD150 juta. Beberapa jam setelah penangkapan, jaksa Swiss membuka penyelidikan kriminal dari undian tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.
Beribu desakan untuk mundur datang kepadanya, dan tepat pada 2 Juni 2015, Blatter mengundurkan diri sebagai orang nomor satu di otoritas sepak bola dunia. Sekaligus mengakhiri masa 17 tahun karena adanya skandal korupsi yang menggerogoti tubuh FIFA.
Sebelumnya di hari yang sama Sekjen FIFA, Jérôme Valcke, juga berada di bawah tekanan. Muncul bukti bahwa ia mendapatkan uang haram sekira USD10 juta dari para pejabat Afrika Selatan untuk mantan presiden CONCACAF, Jack Warner, pembayaran tersebut menurut peneliti AS sebagai kasus suap.
Menyeruaknya korupsi di tubuh FIFA mengharuskan mereka untuk bisa menyelidiki lebih lanjut siapa saja yang terkait pada bisnis haram ini. Bahkan tahap investigasi menghasilkan pemeran utama dari kasus korupsi ini.
Pihak Komite Etik FIFA mulai menyasar kepada Blatter yang dianggap turut serta pada kasus korupsi di tubuh FIFA. Bahkan pada 21 Desember, Ketua Hakim Komite Etik FIFA, Hans-Joachim Eckert menghukum Blatter selama delapan tahun tak boleh berkecimpung di dunia sepak bola.
Blatter dianggap telah melakukan tindakan suap sebesar 2 juta franc Swiss, atau sekitar Rp27 miliar pada 2011. Ia bukan dalang tunggal. Blatter ditemani Ketua UEFA, Michael Platini yang juga mendapat ganjaran yang sama pada kasus ini.
Selain hukuman delapan tahun tak boleh berkecimpung di dunia sepak bola, keduanya juga mendapat denda. Blatter didenda 46 ribu euro atau sekitar Rp690 juta. Sedangkan Platini didenda 74 ribu euro atau Rp1,1 miliar setelah dinyatakan bersalah melanggar kode etik.
JULI
Gelar Pertama Cile di Copa America 2015
Sejarah tercipta bagi sepak bola Cile. Untuk pertama kalinya mereka juara di ajang Copa America. Tak tanggung-tanggung, lawan yang mereka kalahkan di final adalah tim bertabur bintang, Argentina via adu penalti 4-1, Minggu 4 Juli 2015.
Rakyat Cile harus berterima kasih dengan generasi emas yang dipimpin pelatih Jorge Sampaoli. Berkat tangan dingin pelatih berusia 55 tahun itu, Cile menjadi tim yang sulit ditaklukkan. Generasi emas yang dimiliki Sampaoli bukan sembarang pemain. Sebut saja Arturo Vidal, Alexis Sanchez, serta kiper Claudio Bravo menjadi pemain yang akan selalu dikenang warga Cile.
Pada perjalanannya ke final bukan perkara mudah bagi Cile. Arturo Vidal cs harus menyingkirkan beberapa kandidat juara untuk bisa menjadi yang terbaik di daratan Amerika Latin.
Bertanding di negeri sendiri, Cile memiliki motivasi ganda. Hasilnya, mereka berhasil menjadi juara grup A usai meraih dua kemenangan (vs Ekuador 2-0 dan Bolivia 5-0) dan sekali imbang (vs Meksiko 3-3).
Lolos ke babak perempat final, Cile harus menjalani tes sesungguhnya, karena harus melewati hadangan Uruguay, yang notabene-nya adalah juara bertahan tiga tahun lalu. Namun di luar dugaan, Cile mampu melewati hadangan, usai menang tipis 1-0 berkat gol yang dicetak Mauricio Isla pada menit 80.
Pada semifinal, Cile menghadapi klub yang non-favorit, Peru. Tapi pada kenyataannya di lapangan, Vidal cs harus berjuang sebelum akhirnya meraih tiket final dengan skor tipis 2-1.
Di partai puncak, Argentina sudah menunggu tuan rumah dengan memiliki target juara. Bagi Lionel Messi cs, mereka tak ingin dibuat kecele selama dua tahun terakhir, kalau kalah dari Cile. Pada tahun sebelumnya di Piala Dunia 2014, Argentina takluk dari Jerman di partai final. Untuk itu, kemenangan menjadi harga mati bagi pasukan yang kala itu dilatih Alejandro Sabella.
Dengan sama-sama mengusung target juara dengan beban yang sama, pertandingan yang berlangsung di stadion Nacional Cile ini pun berjalan alot. Meski banyak peluang, kedua kesebelasan tak kunjung mencetak gol. Laga pun harus ditentukan melalui adu penalti.
Di sini peran pelatih memilih para pemain yang siap mental. Pelatih Cile, Sampaoli melakukan strategi yang pas, karena dari empat penendangnya, semuanya melakukan tugas dengan baik. Sementara di kubu Argentina, hanya Lionel Messi yang bertindak sebagai algojo pertama yang sukses mengeksekusi penalti. Dua algojo lainnya, Gonzalo Higuain dan Ever Benega sama-sama gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Cile pun keluar sebagai juara dengan kemenangan 4-1.
AGUSTUS
Persembahan Terakhir Pedro untuk Barcelona
Sebagai juara Liga Champions, Barcelona harus membuktikan diri menjadi yang terbaik di jagat Benua Biru. Skuat Luis Enrique pun ditantang Sevila, yang notabene adalah juara Liga Europa pada Piala Super Eropa di Stadion Boris Paichadze Dinamo, Tbilisi, Georgia, 12 Agustus 2015.
Hujan gol tercipta pada laga ini lantara kedua tim bermain terbuka. Bahkan gol sudah tercipta ketika pertandingan baru berusia tiga menit ketiga melalui Ever Benega. Lionel Messi tak mau ketinggalan. Empat menit berselang, La Pulga membuat keadaan imbang. Messi membuat Barca unggul ketika mencetak gol pada menit 16. Sementara Rafinha menutup babak pertama sekaligus membuat Barca unggul 3-1.
Blaugrana semakin menunjukkan superioritasnya di depan skuat Unai Emery, ketika Luis Suarez ikut menyumbangkan gol untuk membuat Barca unggul 4-1 menit 52. Keunggulan 4-1 membuat Barca terlena. Pemain kawakan Sevilla, Jose Antonio Reyes memberikan semangat buat para juniornya, ketika mencetak gol pada menit 57. Sevilla pun memperkecil ketertinggalan menjadi 2-4.
Pertandingan kian sengit, saat gol ketiga Sevilla datang dari aksi Gameiro melalui titik penalti pada menit 72, skor 3-4 masih untuk keunggulan Barca. Tapi sembilan menit jelang waktu normal berakhir, winger Sevilla asal Ukraina, Yevhen Konoplyanka memaksa laga tersebut memainkan babak ekstra.
Pedro Rodriguez datang sebagai penentu kemenangan Barca. Masuk menggantikan Javier Mascherano pada menit 93, Pedro memanfaatkan bola rebound Messi, dan mencetak gol kelima Barca menit 115. Sekaligus memastikan Barca mengangkat trofi Piala Super Eropa untuk kelima kalinya.
Sayangnya gol tersebut menjadi persembahan terakhir Pedro untuk Barca. Sebab delapan hari berselang, jebolan La Massiah ini memutuskan hengkang dari Camp Nou dan memilih Chelsea sebagai pelabuhan berikutnya.
Alasan Pedro hanya satu, ia merasa kian tak mendapatkan tempat di skuat utama Blaugrana, mengingat Enrique lebih sering mengandalkan trio MSN yang diisi Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar da Silva Santos Junior.
Reinkarnasi Parma
Awan hitam menggelayuti persepakbolaan Italia. Salah satu klub besar di Liga Italia dan di Eropa, AC Parma divonis bangkrut pada 14 Agustus. Pemilik klub pun terpaksa melelang seluruh trofi, termasuk trofi Piala UEFA demi bisa menyelamatkan klub untuk tetap bertahan.
Akhirnya mereka melakukan reinkarnasi dengan mengubah nama menjadi Parma Calcio 1913. Kehidupan baru pun dijalani. Mereka memulai catatan penampilan perdana dengan bertarung di divisi terbawah Liga Italia, Serie D.
SEPTEMBER
Transfer Sarat Kontroversi
Kejadian menarik datang pada bursa transfer musim panas Eropa. Di antaranya kegagalan barter yang dilakukan oleh Manchester United dan Real Madrid.
Madrid yang menginginkan sekali sosok David De Gea, usai Iker Casillas memutuskan hengkang dari Santiago Bernabeu, dibuat kecewa. Pasalnya pertukaran dengan De Gea dengan Keylor Navas tak terwujud lantaran telah melewati batas akhir transfer di Spanyol.
Bukan hanya kehilangan De Gea, Los Blancos juga harus membayar uang perjanjian dengan mantan kiper Atletico Madrid itu jika tidak bisa menyelesaikan transfer ini. Madrid pun harus membayar kepada De Gea sebesar Rp158 miliar.
Kejadian menarik lainnya datang dari United. Mereka melakukan transfer yang sarat kontroversi dengan mendatangkan pemain U-19 Prancis, Anthony Martial. Dibeli dari Monaco dengan banderol 35 juta pounds, Martial menjadi pemain muda termahal dalam sejarah transfer sepak bola Prancis.
Referendum Katalunya, Barca Terancam Cerai dengan Spanyol?
Ternyata politik di Eropa juga memengaruhi sepak bola. Terbukti dengan yang terjadi di Spanyol pada 22 September, di mana gerakan separatis Katalunya ingin berpisah dari Spanyol dan ingin merdeka.
Kenyataan ingin merdeka telah dimenangkan gerakan tersebut dan memunculkan spekulasi kalau klub raksasa Barcelona berpeluang keluar dari La Liga, jika Katalan benar-benar menginginkan Blaugrana angkat kaki dari Spanyol.
Bukan hanya Barca, bahkan menurut ketua federasi sepak bola Spanyol (LFP), Javier Tebas menegaskan Espanyol juga tidak bisa bermain lagi di La Liga, jika Katalunya telah memerdekan diri dari Spanyol.
OKTOBER
Tangis Belanda
Penampilan menurun ditunjukkan Belanda dalam menjalani kualifikasi Piala Eropa 2016. Dari 24 negara yang memastikan diri lolos ke putaran final, Belanda tak ikut serta di dalamnya.
Tim Oranye mengubur mimpi mereka tampil di Prancis setelah takluk dari Republik Ceko pada laga terakhir kualifikasi Piala Eropa. Di sini Robin van Persie dituduh menjadi biang kerok, karena telah mencetak gol bunuh diri dari laga yang berkesudahan 3-2 untuk Ceko.
NOVEMBER
Teror Bom Menyasar ke Sepak Bola
Sepak bola juga tak lepas menjadi incaran para teroris. Kali ini sebuah laga persahabatan antara Prancis dengan Jerman yang berlangsung di stadion Stade de Frances diwarnai teror bom bunuh diri, 14 November. Bom itu meledak di salah satu pintu masuk stadion beberapa saat jelang pertandingan berakhir.
Ledakan bom itu merupakan salah satu dari rangkaian bom yang terjadi di beberapa lokasi. ISIS mengklaim kalau semua rentetan terror tersebut adalah tanggung jawab mereka.
DESEMBER
Gong Sepak Bola Eropa
UEFA merilis hasil undian Piala Eropa 2016 pada 13 Desember. Beberapa tim besar bakal saling berhadapan di fase grup. Seperti Italia yang harus bersua tim kuda hitam, Belgia. Selain itu ada juga Battle of Britain antara Inggris dengan Wales yang terjadi di grup B.
Sehari berselang, UEFA juga mengumumkan drawing 16 besar Liga Champions. Akan ada empat pertandingan besar yang mempertemukan delapan tim terbaik. Di antaranya, AS Roma kontra Real Madrid, Paris Saint Germain vs Chelsea, Arsenal tantang Barcelona, dan Juventus bentrok dengan Bayern Muenchen.
Sementara hasil undian 32 besar Liga Europa juga tak kalah seru. Wakil Jerman, Borussia Dortmund bakal bertemu FC Porto. Sementara Manchester United yang harus turum kasta dari Liga Champions, akan ditantang wakil Denmark, Midtjylland.
Tinta Emas Barcelona di Piala Dunia Antarklub
Klub raksasa La Liga, Barcelona terus menorehkan tinta emas di sepak bola dunia. Usai menjuarai Liga Champions untuk ketiga kali dalam enam musim terakhir, Blaugrana juga mencatatkan diri sebagai tim yang paling sering menjuarai Piala Dunia Antarklub.
Sejak dinamai Piala Dunia Antarklub, Barcelona tercatat sebagai klub yang telah menorehkan juara sebanyak tiga kali, yaitu pada 2009, 2011, dan terkini 2015. Mereka unggul dari Corinthians yang punya dua gelar di turnamen antar klub dunia ini.
Kesuksesan Barca tak lepas dari para pemain dan pelatihnya. Terkhusus pada trio MSN (Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar da Silva). Ketiga pemain ini menjadi sosok penentu kemenangan Barca saat melumat wakil dari Amerika Selatan, River Plate dengan skor 3-0, 20 Desember 2015 di Yokohama, Jepang.
Gol pembuka Barca lahir dari kaki Messi setelah menerima umpan sundulan Neymar pada menit ke-36. Keunggulan tipis 1-0 sempat bertahan hingga turun minum, sebelum akhirnya Suarez mampu mencetak dua tambahan gol pada babak kedua.
Sepasang gol dari mantan penyerang Liverpool itu lahir pada menit ke-49 dan ke-68. Gol pertama Suarez tercipta dengan sebuah tendangan terarah. Pemain berjuluk El Pistolero melengkapi kemenangan Barca lewat gol keduanya yang dicetak menggunakan kepala atau sundulan.
Sementara itu, selain River Plate yang harus menempati posisi kedua pada turnamen ini. Ada dua tim asal Asia yang berhasil menduduki peringkat tiga dan empat. Sanfrecce Hiroshima dan Guangzhou Evergrande saling sikut untuk menjadi peringkat ketiga terbaik dunia. Namun kemenangan justru diraih Sanfrecce atas juara Liga Champions Asia dengan skor akhir 2-1.
Blatter dan Platini Akhirnya Dihukum FIFA
Komite Etik FIFA akhirnya memberik sanksi kepada Sepp Blatter dan Michel Platini pada 21 Desember. Mereka diganjar hukuman delapan tahun tak boleh terjun di dunia sepak bola. Hans-Joachim Eckert selaku Ketua Hakim Komite Etik FIFA, membacakan putusan tersebut. Komite Etik FIFA menganggap keduanya bersalah telah melakukan tindakan suap sebesar 2 juta franc Swiss atau sekitar Rp27 miliar pada 2011.
Selain hukuman delapan tahun tak boleh berkecimpung di dunia sepak bola, Blatter dan Platini juga mendapat denda. Blatter didenda 46 ribu euro atau sekitar Rp690 juta. Sedangkan Platini didenda 74 ribu euro atau Rp1,1 miliar setelah dinyatakan bersalah melanggar kode etik.
“Komite etik untuk melarang Joseph S. Blatter, presiden FIFA dan Michel Platini, yang menjabat sebagai wakil presiden dan anggota komite eksekutif FIFA dan presiden UEFA, selama delapan tahun dari semua kegiatan berhubungan dengan sepak bola (administrasi, olahraga atau lainnya) di tingkat nasional dan internasional. Hukuman mulai berlaku segera," tulis pernyataan Komite Etik FIFA.
Skandal suap di FIFA mulai tercium pada Mei 2015 saat kongres pemilihan Presiden FIFA. Saat itu, beberapa pejabat teras FIFA ditangkap satu hari sebelum pemilihan berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(ACF)
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan