medcom.id, Accra: Minimnya pengalaman dan prestasi menjadi alasan utama publik meragukan kemampuan arsitek bernama lengkap James Kwesi Appiah tersebut.
Namun, keraguan tersebut justru ditanggapi Appiah dengan kepala dingin. Ia juga menjadikan semua kritik sebagai pelecut semangat.
Alih-alih kecewa dengan status timnya yang menjadi underdog di putaran final Piala Dunia 2014, juru taktik kelahiran Kumasi, Ashanti, Ghana, pada 30 Juni 1960 silam itu justru merasa senang. Dengan status itu, kesempatan mereka untuk meraih prestasi justru lebih besar.
“Ketika kami memastikan tiket ke Brasil, hal itu sebenarnya sudah menunjukkan kualitas kami. Memang ada banyak tim hebat di Piala Dunia. Itu sebabnya kami lebih suka dengan status underdog. Dengan begitu, kami tidak menyandang beban berat,” kata suksesor arsitek Serbia Goran Stevanovic itu.
Meski begitu, lanjut dia, bukan berarti timnya tidak punya misi. Bagaimanapun selain menjadi duta bangsa, mereka mewakili Benua Afrika.
Itu sebabnya mereka juga meraih prestasi terbaik di Brasil nanti. Apalagi Federasi Sepak Bola Ghana (GFA) juga memberikan target tertentu ketika memutuskan untuk memperpanjang kontraknya selama dua tahun, bulan lalu.
“Sama dengan tim-tim lain, kami juga ingin mencapai hasil terbaik. Tidak peduli apa hasil itu. Kami ingin membuat para pendukung kami bernyanyi dan menari bersama,” tukas Appiah.
Sebelumnya, Presiden Federasi Sepak Bola Ghana Kwesi Nyantakyi meminta seluruh elemen masyarakat Ghana agar mendukung Appiah. Menurut dia, tanpa dukungan semua pihak, mustahil tim kesayangan mereka bisa berbicara di Brasil nanti.
“Kita semua harus bersatu mendukung Appiah dan skuatnya karena perjuangan mereka ditujukan demi kebanggaan bangsa Ghana pada khususnya dan Afrika pada umumnya,” tegas Nyantakyi. (Berbagai sumber/Achmad Maulana)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(NAV)