Tips Saat Anak Remaja dan Orang Tua Berbeda Pendapat

Tips Saat Anak Remaja dan Orang Tua Berbeda Pendapat (Foto: gettyimages)


medcom.id, Jakarta: Membesarkan anak yang beranjak remaja adalah salah satu tantangan terbesar bagi para orang tua. Tak jarang, anak pada fase ini menjawab dengan lantang dan suara keras saat orang tua berbicara pada mereka.

Bagi para orang tua yang mulai kewalahan dengan sikap anak yang seperti itu, jangan cemas. Sebuah penelitian baru memberikan wawasan baru pada orang tua tentang bagaimana kesalahpahaman dalam rumah dapat memengaruhi masalah perilaku remaja.

Studi yang dilakukan oleh University of California tersebut meninjau data dari 220 orang tua dan anak remaja mereka dan menemukan bahwa jika remaja berpikir reaksi orang tua pada kemarahan mereka lebih kuat dan lebih negatif daripada orang tua mereka maksud, kemarahan mereka akan lebih agresif.

Misalnya, ketika orang tua menanggapi dengan kalimat "Lupakan saja", maka anak akan merasa diabaikan.

Penelitian tersebut juga menemukan bawha orang tua yang salah menerjemahkan emosi anak remaja mereka juga berisiko meningkatkan respons negatif anak. Selain itu, bila anak merasa orang tua mereka terlalu disiplin, mereka akan melakukan menunjukkan perilaku seperti membalas ucapan orang tua, menyelinap keluar rumah, dan melanggar aturan rumah.

Menariknya, jenis kelamin turut berperan dalam perilaku tersebut. Misalnya, ketika ibu salah mengartikan kemarahan anak dan bereaksi negatif, remaja cenderung akan melampiaskan emosi mereka dengan berargumen kemudian pergi meninggalkan ruangan. Sementara, pada ayah, mereka akan lebih agresif.



"Hubungan antara ayah dan anak lebih jarang diteliti dibandingkan dengan ibu, namun penelitian kami menemukan bahwa hubungan tersebut unik," ujar Misaki Natsuaki, salah satu asisten profesor dalam Psikologi di University of California, Riverside.

Cara ayah merespons kemarahan remaja memiliki potensi untuk memperburuk atau menghalangi kelakuan agresif remaja.

Konflik antara orang tua dan anak adalah salah satu hal biasa dalam dinamisme keluarga, studi terakhir menemukan bahwa orang tua dapat mempererat hubungan tersebut dengan cara mendengarkan prespektif anak tentang keputusan yang diambil oleh orang tua.

"Ketika anak sedang tenang dan diam, penting bagi orang tua untuk mengklarifikasi apa yang anak mereka dengar dan mendiskusikan perbedaan pandangan yang mereka lihat," ujar Natsuaki.

Ia menambahkan, orang tua harus ingat bahwa anak mereka memiliki suasana hati tak menentu dan plin-plan, sehingga akan ada sudut pandang lain dari mereka. Tak seperti anak kecil yang egosentris, remaja lebih bisa melihat secara kompleks.

Ketika perbedaan pendapat terjadi, remaja cenderung menggunakan alasan logis, yang terkadang tidak sesuai. Menurut Natsuaki, perbedaan persepsi tersebut dapat membantu orang tua dan anak mendapatkan melihat sudut pandang satu sama lain dan membuat keduanya semakin dekat.

"Ketika orang tua mengajak remaja mereka untuk berbagi perspektif, mereka membantu memperkuat penalaran satu sama lain dan hal tersbeut berkaitan dengan kesehatan psikologis dan kebahagiaan di masa depan," tutupnya.

 

Editor : Elang Riki Yanuar

Advertising